77 tahun sudah negara tercinta kita ini merdeka. Banyak momentum yang direalisasikan untuk menyemarakkan gebyar Hari Ulang Tahun ke 77 Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang tak asing di setiap daerah / desa maupun komunitas yakni mengadakan perlombaan seperti makan kerupuk, tarik tambang, balap karung, panjat pinang dan lain sebagainya. Ada juga yang memeriahkan yang lain dengan mengikuti jalan sehat atau biasa disebut jalan santai, mengadakan kegiatan rohani seperti pengajian, menampilkan budaya Indonesia, seperti misalkan Ludruk dan festival lain yang memperkenalkan beragam budaya Indonesia. Selain itu, Karnaval atau pawai yang menyajikan beragam profesi, keunikan setiap suku, dan lainnya. Semua itu dilakukan tentunya selain untuk menyemarakkan Dirgahayu ke 77 Kemerdakaan Negara Kesatuan Republik Indonesia juga untuk mengingat atau mengenang jasa pahlawan.
Kita tidak bisa menikmati hasilnya seperti saat ini, tanpa perjuangan para pejuang bangsa. Jasa para pahlawan mempertaruhkan nyawanya untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah sangatlah mulia dan besar. Di era milenial ini, kita lalai dan terbuai oleh globalisasi dan momentum mewariskan budaya Indonesia yang mencolok hanya dapat ditemukan di bulan Agustus saja dalam setiap tahun. Setelah itu, akan sirna dengan sendirinya dan tergantikan dengan modernisasi yang mendunia. Tidak ada yang salah dengan globalisasi, hanya jangan sampai meninggalkan budaya tradisonal yang sesuai dengan syari’at agama, hal itu merupakan wujud untuk mencintai Indonesia, bangga dengan apa yang dimiliki Indonesia. Beberapa contoh seperti bangga terhadap produk Indonesia, pengembangan teknologi buatan anak bangsa. Kita dapat memperkenalkan hal yang unik, terbaik yang dimiliki oleh potensi anak muda untuk memperkenalkan kepada dunia tanpa harus menutup diri terhadap adanya globalisasi. Seperti saja, membuat desain baju yang digemari di era globalisasi dengan corak batik khas dari beragam daerah, suku atau lainnya. Dengan memperkenalkan identitas diri kita dengan keragaman yang ada, akan semakin membuat Indonesia dikenal oleh dunia. Ini bisa diterapkan kepada generasi penerus, atau pemuda karena usia mereka yang produktif. Dari segi penampilan, saat ini umumnya memakai pakaian yang sedang tren, padahal seperti batik, maupun kaos buatan Indosia memiliki makna mencintai dan bangga terlahir, dibesarkan di Indonesia. Dari makananpun, saat ini banyak dijumpai makanan cepat saji yang mendunia, padahal ragam makanan khas, jajanan maupun kudapan Indonesia tidak kalah nikmat bahkan beragam. Sayangnya, sedikit yang melakukan hal demikian.
Selain itu, untuk meneladani sikap kepahlawanan kita harus mempertahankan Indonesia dan tetap semangat untuk Indonesia. Sebagai generasi penerus bangsa Indoesia, kita belajar yang rajin, menyukai atau berpartisipasi dalam lomba-lomba di tingkat nasional maupun internasional. Mengharumkan negara Indonesia, kita termasuk mencintai dan meneladani sikap kepahlawanan. Tugas kita hanyalah meneruskan perjuangan para pahlawan. Kita pasti salut dan terharu, saat lagu Indonesia Raya terdengar di saat acara pertandingan olahraga yang diadakan di tingkat benua, asia tenggara, bahkan mendunia. Terima kasih kepada yang telah berjuang mengharumkan nama bangsa Indonesia tercinta melalui perjuangan memperoleh medali, memperoleh piala dalam festival dunia di bidang pendidikan, teknologi dan lain-lain.
77 tahun Indonesia merdeka. Indonesia adalah negara tercinta yang selalu dihati selamanya.
